BAB 1 PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang

Indonesia merupakan bangsa yang terdiri dari beragam suku bangsa dan etnik baik yang asli pribumi maupun emigran. Multi-etnik yang dimiliki Indonesia ini dapat berpotensi menghadapi masalah perbedaan, persaingan dan tidak jarang pertikaian antar etnik yang tentunya dapat mengancam keutuhan dan kesatuan Negara Republik Indonesia. Walaupun fenomena etnik secara internal bisa berfungsi integratif, secara eksternal berpotensi konflik.

Orang-orang Etnik Cina atau yang lebih dikenal dengan Etnis Tionghoa sendiri merupakan salah satu etnis minoritas di tengah kemajemukan etnik di Indonesia. Menurut Coppel (1983) dalam Habib (2004)[1], pada tahun 1961, diperkirakan ada sekitar 2,45 juta jiwa Etnik Cina atau sekitar 2,5% dari total penduduk Indonesia. Dari segi tempat tinggal etnis Cina ini, ada perbedaan pola sebaran antar berbagai pulau di Indonesia. Khusus untuk Jawa dan Madura, persentase terbesar (78,4%) bertempat tinggal di wilayah perkotaan, sedangkan sisanya (21,6%) bertempat tinggal di wilayah pedesaan. Etnis Cina sendiri merupakan etnis keturunan asing yang paling banyak jumlahnya sampai sekarang.

Secara umum jumlah penduduk Cina di Indonesia makin bertambah tiap tahunnya sebagaimana terlihat pada tabel berikut:

Tabel 1.1 Pertambahan Penduduk Tionghoa di Indonesia (dalam ribuan)[2]

Tahun Jawa Pulau-pulau luar Jawa Jumlah Seluruhnya
jumlah persen Jumlah Persen
1860 150 67,6 72 32,4 222
1880 207 60,2 137 39,8 344
1895 256 54,6 213 45,4 469
1905 295 52,4 268 47,6 563
1920 384 47,5 425 52,5 809
1930 582 47,2 651 52,8 1.233
1956 1.145 52,0 1.055 48,0 2.200
1961 1.230 50,2 1.220 49,8 2.450

Sumber: Untuk tahun 1860-1930, Department van Economische Zaken, Volkstelling 1930, 7, 39-43; perkiraan tahun 1956 didasarkan pada penduduk yang tercatat seperti yang diterbitkan di dalam Penduduk Indonesia (Jakarta, 1958); angka-angka untuk tahun 1961 merupakan proyeksi yang dibuat oleh penulis dari perkiraan tahun 1956.

Kehadiran Etnis Cina di Indonesia sejak awal pertama sampai para pendatang berikutnya yang secara bergelombang mendarat di Indonesia, telah menimbulkan masalah. Burhanuddin (1988)[3] menyebutkan bahwa masalah yang pertama adalah mengenai identitas mereka sebagai emigrant dari luar kelompok etnis Indonesia dan wilayah Indonesia yang berlangsung hingga Indonesia memperoleh kemerdekaannya, bahkan hingga sekarang ini. Lebih jauh Koentjaraningrat (1964)[4] menyebutkan bahwa walaupun orang Cina di Indonesia telah hidup berabad-abad lamanya, mereka belum juga bisa mengintegrasikan kehidupan mereka dengan cara atau kebudayaan Indonesia, sehingga masih terlihat adanya garis pemisah dalam bentuk kehidupan orang Cina tersebut.

Permasalahan yang ditimbulkan dari kehadiran serta keberadaan Etnis Cina di Indonesia serta hubungannya dengan keutuhan dan kesatuan Indonesia inilah yang akhirnya mendorong penulis untuk menulis Proses Asimilasi dan Integrasi Golongan Etnis Cina di Indonesia Terhadap Keutuhan dan Kesatuan Bangsa sebagai judul tugas makalah akhir untuk matakuliah Berpikir dan Menulis Ilmiah.

1.2       Perumusan Masalah

Dalam menyusun karya ilmiah ini, penulis membuat sejumlah perumusan masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana kehidupan etnis Cina di Indonesia yang merupakan etnis minoritas di Indonesia?
  2. Bagaimana proses asimilasi dan integrasi etnis Cina di Indonesia?
  3. Bagaimana hubungan keberhasilan asimilasi etnis Cina dengan keutuhan dan kesatuan bangsa?

1.3       Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan karya ilmiah ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk menganalisis tentang kehidupan etnis Cina di Indonesia yang merupakan etnis minoritas.
  2. Untuk menganalisis proses asimilasi dan integrasi etnis Cina di Indonesia.
  3. Untuk menganalisis hubungan keberhasilan asimilasi etnis Cina dengan keutuhan dan kesatuan bangsa.

1.4       Manfaat Penulisan

Adapun manfaat dari penulisan karya ilmiah ini adalah sebagai berikut:

  1. Manfaat akademis, yaitu dengan memberikan gambaran umum tentang proses asimilasi etnis Cina di Indonesia serta kaitannya dengan keutuhan dan kesatuan bangsa.
  2. Manfaat social, yaitu tercapainya keutuhan dan kesatuan bangsa melalui asimilasi dan integrasi antaretnik.
  3. Manfaat praktis, yaitu melalui kebijakan-kebijakan menyangkut asimilasi dan integrasi yang lebih baik lagi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1       Pengertian Asimilasi

Asimilasi adalah pembauran dua kebudayaan yang disertai dengan hilangnya ciri khas kebudayaan asli sehingga membentuk kebudayaan baru. Suatu asimilasi ditandai oleh usaha-usaha mengurangi perbedaan antara orang atau kelompok. Untuk mengurangi perbedaan itu, asimilasi meliputi usaha-usaha mempererat kesatuan tindakan, sikap, dan perasaan dengan memperhatikan kepentingan serta tujuan bersama.

Hasil dari proses asimilasi yaitu semakin tipisnya batas perbedaan antarindividu dalam suatu kelompok, atau bisa juga batas-batas antarkelompok. Selanjutnya, individu melakukan identifikasi diri dengan kepentingan bersama. Artinya, menyesuaikan kemauannya dengan kemauan kelompok. Demikian pula antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain.

2.2       Syarat Terjadinya Asimilasi

Asimilasi dapat terbentuk apabila terdapat tiga persyaratan berikut:

  • terdapat sejumlah kelompok yang memiliki kebudayaan berbeda.
  • terjadi pergaulan antarindividu atau kelompok secara intensif dan dalam waktu yang relatif lama.
  • Kebudayaan masing-masing kelompok tersebut saling berubah dan menyesuaikan diri.

2.3       Faktor Pendorong dan Faktor Penghalang

Faktor-faktor yang mendorong atau mempermudah terjadinya asimilasi adalah sebagai berikut:

  • Toleransi di antara sesama kelompok yang berbeda kebudayaan
  • Kesempatan yang sama dalam bidang ekonomi
  • Kesediaan menghormati dan menghargai orang asing dan kebudayaan yang dibawanya.
  • Sikap terbuka dari golongan yang berkuasa dalam masyarakat
  • Persamaan dalam unsur-unsur kebudayaan universal
  • Perkawinan antara kelompok yang berbeda budaya
  • Mempunyai musuh yang sama dan meyakini kekuatan masing-masing untuk menghadapi musuh tersebut.

Faktor-faktor umum yang dapat menjadi penghalang terjadinya asimilasi antara lain sebagai berikut.

  • Kelompok yang terisolasi atau terasing (biasanya kelompok minoritas)
  • Kurangnya pengetahuan mengenai kebudayaan baru yang dihadapi
  • Prasangka negatif terhadap pengaruh kebudayaan baru. Kekhawatiran ini dapat diatasi dengan meningkatkan fungsi lembaga-lembaga kemasyarakatan
  • Perasaan bahwa kebudayaan kelompok tertentu lebih tinggi daripada kebudayaan kelompok lain. Kebanggaan berlebihan ini mengakibatkan kelompok yang satu tidak mau mengakui keberadaan kebudayaan kelompok lainnya
  • Perbedaan ciri-ciri fisik, seperti tinggi badan, warna kulit atau rambut
  • Perasaan yang kuat bahwa individu terikat pada kebudayaan kelompok yang bersangkutan
  • Golongan minoritas mengalami gangguan dari kelompok penguasa

BAB III PEMBAHASAN

3.1       Etnis Cina di Indonesia

Kehadiran Etnis Cina (atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tionghoa ini) di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang majemuk sudah berlangsung sejak lama. Bahkan jauh sebelum masa kolonial. Hal ini lantaran Etnis Cina atau yang lebih dikenal golongan Tionghoa, sejak masa kerajaan-kerajaan Budha Indonesia sering berimigrasi ke Indonesia untuk tujuan berdagang dan atau memperdalam dan memperluas agama Budha.

Etnik keturunan Cina di Indonesia memiliki banyak sebutan. Achmad Habib (2004)[5] menyebutkan antara lain, Baba dan Tionghoa yang digunakan untuk menunjuk keturunan perpaduan antara laki-laki Cina imigran yang datang ke Indonesia sebelum abad ke-19 dan perempuan lokal atau perempuan yang terlahir dari hubungan demikian. Sementara itu Totok adalah imigran yang datang setelah pergantian abad.

Suryadinata (1999)[6] menyebutkan bahwa Tionghoa dapat dipecah menjadi peranakan yang lahir di Indonesia dan berbahasa Indonesia, serta orang Tionghoa totok yang lahir di dalam atau luar negeri, dan berbahasa Cina. Tionghoa peranakan sebagian besar berdiam di Jawa, sedangkan totok umumnya berdiam di Kepulauan Luar.

Seperti yang telah disebutkan di atas, Etnis Cina di Indonesia merupakan etnis minoritas. Ada sebagian Etnik Cina yang benar-benar diterima oleh kaum pribumi, tetapi ada juga dari mereka yang ditolak dan mendapatkan perlakuan yang diskriminatif. Aksi kekerasan anti-Tionghoa di Nusantara sudah terjadi berulang-ulang pada jangka waktu yang cukup lama.

Pandangan negatif tentang Tionghoa diperparah oleh kebijakan-kebijakan para penguasa Nusantara sejak dari jaman VOC, raja-raja Mataram, Pemerintah Hindia Belanda dan diteruskan sampai kepada pemerintahan Republik Indonesia. Selama Orde Baru berjaya dalam 3 dekade lebih, selama itu pula etnis Cina banyak mengalami diskriminasi. Hal itu terlihat dari adanya beberapa peraturan dan kebijakan yang mengatur eksistensi etnis Cina di Indonesia[7]:

  1. Keputusan Presiden Kabinet No. 127/U/KEP/12/1996 tentang masalah ganti nama.
  2. Instruksi Presidium Kabinet No. 37/U/IV/6/1967 tentang Kebijakan Pokok Penyelesaian Masalah Cina yang wujudnya dibentuk dalam Badan Koordinasi Masalah Cina, yaitu sebuah unit khusus di lingkungan Bakin.
  3. Surat Edaran Presidium Kabinet RI No. SE-06/PresKab/6/1967, tentang kebijakan pokok WNI keturunan asing yang mencakup pembinaan WNI keturunan asing melalui proses asimilasi terutama untuk mencegah terjadinya kehidupan eksklusif rasial, serta adanya anjuran supaya WNI keturunan asing yang masih menggunakan nama Cina diganti dengan nama Indonesia.
  4. Instruksi Presidium Kabinet No. 37/U/IN/6/1967 tentang tempat-tempat yang disediakan utuk anak-anak WNA Cina disekolah-sekolah nasional sebanyak 40% dan setiap kelas jumlah murid WNI harus lebih banyak daripada murid-murid WNA Cina.
  5. Instruksi Menteri Dalam Negara No. 455.2-360/1968 tentang penataan Kelenteng-kelenteng di Indonesia.
  6. Surat Edaran Dirjen Pembinaan Pers dan Grafika No. 02/SE/Ditjen/PP6/K/1988 tentang larangan penerbitan dan pencetakan tulisan/ iklan beraksen dan berbahasa Cina.

Kebijakan-kebijakan yang dibuat semasa Orde Baru tersebut sebenarnya bertujuan untuk pembauran total. Etnis Tionghoa diharapkan dilebur ke dalam budaya pribumi sehingga tercapai asimilasi seperti yang diharapkan. Namun pengistilahan “Tionghoa” sendiri terhadap etnis ini membuat proses asimilasi tersebut sulit dicapai apalagi didukung dengan stereotipi tentang etnis “tionghoa” tersebut.

Dalam beberapa aspek kehidupan, orang Cina peranakan maupun totok lebih banyak berorientasi kepada kultur nenek moyangnya. Bentuk konkret ekonomi etnis Cina cenderung bergerak di bidang perdagangan (retail) dan keuangan, usaha-usaha yang sifatnya bukan usaha besar (karena usaha-usaha vital pengelolaannya dikuasai oleh negara). Perilaku ekonomi yang cenderung proaktif, berbentuk usaha atau perusahaan keluarga, sudah menjadi ciri etnis Cina di kawasan Asia termasuk Indonesia.

3.2       Proses Asimilasi dan Integrasi Etnis Cina di Indonesia

Menurut Koentjaraningrat[8], proses asimilasi akan timbul apabila ada tiga unsure, yaitu: (a) adanya kelompok manusia yang berasal dari lingkungan kebudayaan yang berbeda-beda, (b) individu dan kelompok saling bergaul langsung secara intensif dalam waktu yang cukup lama, dan (c) kebudayaan dari kelompok itu berubah saling menyesuaikan diri.

Burhanuddin (1988) menjelaskan lebih lanjut mengenai asimilasi yaitu:

“…  asimilasi itu proses social yang telah lanjut yang ditandai oleh makin kurangnya perbedaan antara individu dan antarkelompok dan makin eratnya persatuan aksi, sikap dan prose mental yang berhubungan dengan kepentingan dan tujuan yang sama” (Burhanuddin, 1988, h.225).[9]

Sementara itu integrasi adalah proses sosial yang cenderung kepada harmonisasi dan penyatuan bermacam-macam kesatuan yang berbeda-beda yang terdiri dari individu atau kesatuan social yang lebih besar (David L. Sills, 1968 dalam Burhanuddin, 1988)[10].

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Burhanuddin di Polewali, Sulawesi Selatan,  dengan status yang masih asing, para etnis Cina ini agak sukar untuk muncul ke permukaan menghirup udara bebas bersama masyarakat setempat. Selain itu proses pewarganegaraan yang terlalu sulit juga merupakan hambatan utama bagi usaha asimilasi mereka. Namun tanda untuk dapat terciptanya proses asimilasi telah tampak. Hal ini dapat terlihat dari perkawinan campuran, keluarga dari golongan totok yaitu dengan wanita peranakan yang mencapai jumlah 53% dan dengan wanita pribumi sebanyak 7%. Adanya pergaulan yang langsung dan terbuka di mana 33% dari mereka berdiam dan bertetangga dengan masyarakat pribumi, dan 27% berada dalam lingkungan campuran. Dengan menguasai bahasa daerah, di mana 53% tergolong menguasai bahasa daerah dengan baik, komunikasi akan terjadi dengan lancar.

Tabel 2.2 Distribusi Persentase Pemakaian Bahasa Oleh Responden Keturunan Cina di Polewali[11]

R Pemakaian Bahasa
Di Rumah N% Sesama Cina N% Masyarakat N%
C I D C I D C I D
WNA 6 67 27 100 20 33 47 100 47 53 100
WNI 35 65 100 100 100 100 100

Sumber: berdasarkan penelitian Burhanuddin berjudul Ance’ dan Baba hal. 21  yang diterbitkan dalam buku yang berjudul: Stereotip Etnik, Asimilasi, Integrasi Sosial

Dalam kenyataan sehari-hari, kita telah dapat melihat bahwa golongan keturunan Cina di Indonesia telah bergaul secara luas dan intensif dengan suku bangsa di Indonesia. Akan tetapi baru terbatas pada tingkat penyesuaian perorangan dan belum terjadi integrasi. Koentjaraningrat menyebutkan bahwa walaupun orang Cina di Indonesia telah hidup berabad-abad lamanya, mereka belum juga bisa mengintegrasikan kehidupan mereka dengan cara atau kebudayaan Indonesia, sehingga masih terlihat adanya garis pemisah dalam bentuk kehidupan orang Cina tersebut.[12]

Perasaan Chinese Culturalism menjadi salah satu faktor penghambat integrasi etnis Cina di Indonesia. Chinese Culturalism[13] adalah perasaan yang selalu mengagungkan kultur nenek moyang. Perasaan yang mana mengarahkan mereka kepada sikap untuk senantiasa berorientasi kepada budaya leluhur yang mempunyai tradisi lebih dari 3000 tahun. Contohnya Etnis Cina mengandalkan integritas suatu hubungan antar etnis Cina di bidang ekonomi dan kekeluargaan. Sehingga rbentuk usaha atau perusahaan keluarga, sudah menjadi ciri etnis Cina

Leo Suryadinata dalam bukunya berjudul Etnis Tionghoa dan Pembangunan Bangsa menyebutkan bahwa kebijakan pemerintah telah cukup sukses dalam pengertian bahwa lebih banyak Tionghoa totok menjadi peranakan dan lebih banyak Tionghoa peranakan menjadi lebih Indonesia. namun, sebagian kelompok etnis Tionghoa tetap dapat dikenali. Dalam bentuk kebudayaan, orang Tionghoa telah menjadi lebih Indonesia. tetapi penggolongan antarkelompok tetap jelas[14].

3.3       Keutuhan dan Kesatuan Bangsa

Kemajemukan bangsa Indonesia merupakan tantangan besar dalam proses keutuhan dan kesatuan bangsa. Golongan-golongan, etnik-etnik pasti menyimpan potensi konflik. Potensi-potensi konflik yang tesimpan ini tentunya dapat menjadi hambatan dalam mencapai kesatuan, persatuan dan keutuhan bangsa Indonesia bila tidak dimanajemen dengan baik.

Untuk itu keberhasilan proses asimilasi dan integrasi suatu etnis sangat mendukung tercapainya keutuhan dan kesatuan bangsa. Etnis minoritas seperti Etnis Cina juga memiliki peranan dalam pencapaian keutuhan dan kesatuan bangsa Indonesia walaupun jumlah mereka termasuk minoritas diantara kemajemukan suku bangsa di Indonesia.

Proses peleburan dalam sebuah asimilasi harus diarahkan sampai pada suatu kondisi di mana istilah “minoritas Tionghoa” menjadi tak ada. Untuk mencapai kondisi demikian, perlu asimilasi yang komprehensif sekaligus butuh campur tangan pemerintah. Melalui asimilasi, eksklusivitas jadi hilang sehingga terbentuk perasaan saling memiliki. Hal tersebut dapat memperkuat keutuhan dan kesatuan bangsa. Untuk mempercepat pembauran etnis di Indonesia, maka persamaan pandangan, saling belajar, dan saling menghormati antar kelompok etnis sangat diperlukan.


BAB IV KESIMPULAN

4.1       Kesimpulan

Etnis Cina di Indonesia merupakan etnis minoritas di tengah kemajemukan bangsa Indonesia. Asimilasi dan integrasi Etnis Cina di Indonesia masih agak sukar untuk dilakukan meskipun sudah mulai telihat adanya asimilasi dalam bentuk pernikahan dengan peranakan maupun pribumi. Hal ini lantaran Chinese Culturalism yang masih kental dalam diri mereka. Demi tercapainya keutuhan dan kesatuan bangsa, golongan Cina ini mesti dapat berasimilasi dan berintegrasi dengan kaum pribumi di Indonesia.

4.2       Saran

Diperlukan kebijakan-kebijakan pemerintah yang lebih baik lagi untuk tercapainya proses asimilasi dan integrasi Etnis Cina di Indonesia. Selain itu diperlukan kesadaran dari masyarakat khususnya golongan Cina itu sendiri akan pentingnya kesatuan dan persatuan bangsa agar mereka terdorong untuk berbaur dan berasimilasi.

DAFTAR PUSTAKA

Burhanuddin, dkk. 1988. Stereotip Etnik, Asimilasi, Integrasi Sosial. Jakarta: PT Pustaka Grafika Kita.

Encep. 2009. Perilaku Ekonimi Etnis Cina di Indonesia Sejak Tahun 1930-an. (http://kotaudang-sap.blogspot.com/2009/08/perilaku-ekonimi-etnis-cina-di.html, diakses tanggal 4 Januari 2010).

Habib Achmad. 2004. Konflik Antaretnik di Pedesaan: Pasang Surut Hubungan Cina-Jawa. Yogyakarta: LKis Yogyakarta.

Koentjaraningrat. 1964. Pengantar Antropologi. Jakarta: Universitas.

Suryadinata Leo.1999. Etnis Tionghoa dan Pembangunan Bangsa. Jakarta: Pustaka LP3ES.

Tan Melly G. 1981. Golongan Etnis Tionghoa di Indonesia: Suatu Masalah Pembinaan Kesatuan Bangsa. Jakarta: PT Gramedia.


[1] Achmad Habib, Konflik Antaretnik di Pedesaan: Pasang surut Hubungan Cina-Jawa, (Yogyakarta: LKiS Yogyakarta, 2004), h.1.[2] Mely G Tan, Golongan Etnis Tionghoa di Indonesia: Suatu Masalah Pembinaan Kesatuan Bangsa, (Jakarta: PT Gramedia, 1981),h.4

[3] Burhanuddin dkk. Stereotip Etnik, Asimilasi, Integrasi Sosial. (Jakarta: PT Pustaka Grafika Kita, 1988) h.225

[4] Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi, (Jakarta: Universitas, 1964), h.34

[5] Achmad Habib, Op.Cit., h.10.

[6] Leo Suryadinata, Etnis Tionghoa dan Pembangunan Bangsa, (Jakarta: LP3ES, 1999), h.170.

[7] Encep. Perilaku Ekonimi Etnis Cina di Indonesia Sejak Tahun 1930-an. (http://kotaudang-sap.blogspot.com/2009/08/perilaku-ekonimi-etnis-cina-di.html, 2009, diakses pada 4 Januari 2010)

[8] Koentjaraningrat, Op.Cit., h.147

[9] Burhanuddin dkk, Op. Cit, h.225

[10] Ibid, h.224

[11] Ibid, h.281

[12] Koentjaraningrat, Op.Cit., h.34.

[13] Burhanuddin dkk, Op.Cit, h.222.

[14] Leo Suryadinata, Op.Cit., h.187

19 Jun 2010

Jerusalem, Kota Suci Tiga Agama

Author: annisaa0833 | Filed under: Artikel

Jerusalem, nama yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Sebuah kota tua yang saat ini sedang diperebutkan oleh Israel dan Palestine. Kota ini diklaim sebagai ibukota Israel, meskipun tidak diakui secara internasional, maupun bagian dari Palestina. Secara de facto kota ini dikuasai oleh Israel. Kota historis Yerusalem adalah sebuah warisan dunia yang dilindungi oleh UNESCO mulai tahun 1981.

Jerusalem atau yang dikenal juga dengan nama Al-Quds atau The Holy Land ini merupakan kota yang suci bagi 3 agama terbesar di dunia yaitu Islam, Nasrani dan Yahudi. Hal ini disebabkan oleh adanya 3 tempat peribadatan suci dan bersejarah di Jerusalem. Di kota ini lah terdapat Mashid’l Al-Aqsha, The wailing walls, dan Gereja Makam Kudus yang masing-masing merupakan tempat peribadatana yang bernilai sejarah tinggi dari tiap agama tersebut.

Kota ini memiliki penduduk sebesar 724.000 jiwa dan luas 123 km2. Sepanjang sejarahnya, Yerusalem telah dihancurkan dua kali, dikepung 23 kali, diserang 52 kali, dan dikuasai/dikuasai ulang 44 kali. Sekarang Para elit Israel menganggap kota suci ini adalah bagian dari negaranya dan itu adalah bentuk ideologi “Zionisme“. Dari semua negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, hanya Kosta Rika dan El Salvador saja yang menempatkan kedutaan mereka di Yerusalem. Lainnya di Tel Aviv, karena menurut PBB, Yerusalem akan dijadikan Kota Internasional.[1] Oleh orang-orang Palestina, Yerusalem juga dianggap sebagai ibu kota Palestina.

Bagi umat muslim, Al-Quds adalah kota suci ketiga setelah Makkah dan Medinah. Di kota yang menjadi akar konflik sengketa umat beragama inilah terdapat Masjidil Al-Aqsha yang terletak di Al-Haram asy-Syarif, Yerusalem Timur yang merupakan kiblat pertama umat muslim sebelum akhirnya berpindah ke ka’bah di Makkah. Di Masjidil Al-Aqsha ini pula lah Nabi Muhammad SAW melakukkan Isra Mi’raj., salah satu mukjizat Rasulullah SAW yang sangat terkenal dalam sejarah umat muslim. Dalam literatur Muslim (Al Quran Al-Karim ) dinyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW diangkat ke Sidratul Muntaha dari lokasi ini pada tahun 621 Masehi, menjadikan masjid ini sebagai tempat suci di Islam (lihat Isra’ Mi’raj.)
Masjid Al-Aqsa yang dulunya dikenal sebagai Baitul Maqdis, menjandi tempat Umat Muslim berkiblat selama Nabi Muhammad mengajarkan Islam di Mekkah (13 tahun) hingga 17 bulan setelah hijrah ke Medinah. Setelah itu kiblat shalat adalah Ka’bah di dalam Masjidil Haram, Mekkah hingga sekarang. Masjid Al-Aqsa yang ada saat ini adalah masjid yang dibangun secara permanen oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan dari Kekhalifahan Umayyah (Dinasti Bani Umayyah) pada tahun 66 H dan selesai tahun 73 H. Agak berbeda dengan pengertian Masjid Al-Aqsa pada peristiwa Isra’ Mi’raj yaitu meliputi seluruh kawasan Al-Haram asy-Syarif.

Sementara itu bagi umat Nasrani Yerusalem adalah tempat permulaan kekristenan. Di Yerusalem Yesus Kristus disalibkan dan dibangkitkan dari antara orang mati. Juga di Yerusalem, Kristus yang dimuliakan mencurahkan Roh Kudus atas para murid-Nya pada hari Pentakosta. Dari kota itu amanat Injil Yesus Kristus menyebar “hingga ke ujung-ujung bumi”. Gereja di Yerusalem menjadi gereja induk dari semua gereja dan gereja pusat para rasul. Di Jerusalem ini pula terdapat sebuah bangunan yang sangat bersejarah yaitu Gereja Kelahiran atau Gereja Nativitas. Gereja Kelahiran atau Gereja Nativitas diBetlehem adalah salah satu dari gedung-gedung gereja tertua di dunia yang masih digunakan sebagai tempat peribadatan. Bangunan ini didirikan di atas gua yang menurut tradisi merupakan tempat lahir Kristus, dan dihormati sebagai tempat suci baik oleh umat Kristiani maupun oleh umat Islam.

Bagi umat yang beragama Yahudi terdapat bangunan bersejarah yang bernama tembok ratapan. Tembok Ratapan adalah tempat yang penting dan dianggap suci oleh orang Yahudi maupun Muslim. Ini adalah sisa dinding Bait Suci di Yerusalem yang dibangun oleh Raja Salomo (Sulaiman), putra Daud. Bait Suci itu hancur ketika Israel diserbu tentara Romawi pada tahun 70 Masehi.
Panjang tembok ini aslinya sekitar 485 meter, dan sekarang sisanya hanyalah 60 meter.
Orang Yahudi percaya bahwa tembok ini tidak ikut hancur sebab di situlah berdiam “Shekhinah” (kehadiran ilahi). Jadi, berdoa di situ sama artinya dengan berdoa kepada Tuhan. Tembok ini dulunya dikenal hanya sebagai Tembok Barat, tetapi kini disebut “Tembok Ratapan” karena di situ orang Yahudi berdoa dan meratapi dosa-dosa mereka dengan penuh penyesalan. Selain mengucapkan doa-doa mereka, orang Yahudi juga meletakkan doa mereka yang ditulis pada sepotong kertas yang disisipkan pada celah-celah dinding itu.
Dinding ini dibagi dua dengan sebuah pagar pemisah (mechitza) untuk memisahkan laki-laki dan perempuan. Orang Yahudi Ortodoks percaya bahwa mereka tidak boleh berdoa bersama-sama dengan kaum perempuan.

Bagi umat Muslim, dinding ini juga merupakan bagian dari dasar Masjidil Aqsa dan Masjidil Omar, serta diyakini sebagai gerbang tempat berangkatnya Nabi Muhammad s.a.w. dari Yerusalem ke surga (mi’raj) dengan mengendarai Buraq
Tembok Ratapan ini diperebutkan antara umat Yahudi dan Muslim di Yerusalem.
Ketika bagian Yerusalem ini berada di bawah kekuasaan Arab, orang Yahudi mengalami kesulitan untuk mengunjunginya dan berdoa di sana. Kini, di bawah kekuasaan Israel, umat Muslim maupun Yahudi dapat mengunjunginya, namun banyak orang Yahudi yang sangat mengharapkan dibangunnya kembali Bait Suci Salomo, dan itu berarti terlebih dulu menghancurkan kedua masjid di atas.

Mengingat betapa sakralnya kota ini bagi ketiga agama tersebut, tidak heran apabila perebutan kekuasaan, serta peperangan sering terjadi demi mendapatkan The Holly Land ini.(AA).

dari berbagai sumber.

19 Jun 2010

Bayu, Bocah Cilik Pejaja Keliling

Author: annisaa0833 | Filed under: Artikel

Bayu, begitu dia biasa disapa, di sekolah terlihat seperti siswa kelas 5 SD biasa lainnya. Namun, siapa sangka kalau Bayu sering menjajakan kue-kue di kampus IPB Dramaga sepulangnya sekolah. Bayu berjualan hamper tiap hari bahkan bila hari-hari yang ramai seperti saat diselenggarakannya wisuda, Bayu rela bolos sekolah demi berjualan.

Kebiasaan berjualan bocah cilik yang bernama lengkap Bayu Aulia di sekitar kampus IPB Dramaga ini mulai berjualan sejak kelas 3 SD. Kegiatannya berjualan ini berawal dari niatnya menambah uang jajan dengan membantu menjajakan makanan yang dibuat oleh ibu temannya . Awalnya dia izin pergi ke orangtuanya akan bermain layang-layang. Padahal waktu bermain laying-layang itu dia pergunakan untuk menjajakan kue. Karena keasyikan berdagang, Bayu pulang larut malam dan ibunya pun cemas mencarinya kemana-mana. Sampai setelah mendengar penjelasan tetangganya yang membuatkan kue untuk dijajakan Bayu, ibunya pun mengerti tapi tetap tidak mengijinkan Bayu untuk berjualan. Namun keesokan harinya Bayu kembali berjualan, begitu pula keesokannya. Hingga akhirnya orangtuanya turut membantu membuatkan kue untuk dijajakan Bayu.

Keluarga Bayu yang menetap di daerah Cibanteng, Bogor merupakan keluarga yang cukup besar. Bayu memiliki 5 orang kakak dan 2 orang adik. Namun yang tinggal di rumah hanya tinggal 3 anak bersama orangtuanya. Ayah dan ibunya sendiri tidak bekerja. Keluarga mereka hanya bertopang pada hasil penjualan kue-kue di IPB Dramaga.

Suka duka yang dialami Bayu dalam hari-harinya menjajakan kue di sekitar kampus IPB Dramaga  cukup banyak. Tiap harinya dia berjalan keliling di kampus IPB atau biasa mangkal di daerah Ofac B 11. Hari senin dan kamis merupakan hari yang cukup berat karena pada hari-hari tersebut banyak mahasiswa muslim yang berpuasa sunah. Bila kue dagangannya tidak habis, sisanya akan dibagikan ke tetangga atau dimakan sendiri bersama keluarga

Kue-kue yang dijajakan Bayu pun bervariasi tergantung jenis dan harganya. Risol dan martabak telor dijual seharga Rp 1.000,00 sedangkan donat, donat isi dan roti sus dijual seharga Rp 1.500,00. Selain itu ada pula roti panada yang dijual dengan harga Rp 2.000,00. Soal omzet harian yang diterimanya, Bayu tidak bisa mengungkapkannya.

Ketika ditanya apa cita-citanya dewasa nanti, Bayu menjawab akan menjadi tentara. Namun ketika ditanya apakah Bayu akan berjualan kue terus untuk membiayainya menjadi tentara nanti, dia menjawab “Itu tergantung. Kalau udah gede terus malu yah ngga jualan lagi.”

bit torrents lotus karls mortgage calculator mortgage calculator uk Original premium news theme